Minggu, 19 April 2015

BERMAIN ADALAH BAHASA ANAK-ANAK

APAKAH BERMAIN PENTING BAGI ANAK?

Sangat penting. Jika diibaratkan bahasa orang dewasa adalah melalui kata-kata. Sedangkan anak-anak berkomunikasi melalui bermain. Bermain adalah bahasa anak. Bermain memiliki banyak fungsi bagi anak. Salah satunya adalah bagi perkembangan sistem sensori kita (yang nantinya penting sebagai seseorang dapat menyerap informasi dan belajar). Detailnya begini :

Pernah dengar tentang sensori integrasi?

Itu adalah sistem (yang terdiri dari panca indra kita) di dalam tubuh yang bertugas mengambil semua informasi yang ada di sekitar kita. Lalu mengatur infomasi tersebut menjadi bermakna bagi kita, dan kita pun bisa bertindak sesuai dengan yang kita maknai. Jadi sensori yang terintegrasi itu penting sekali untuk dasar seseorang belajar.

Contohnya, ketika kita mendengar anjing yang menyalak, kuping kita akan mengambil informasi suara itu. Lalu menyampaikannya ke otak dan otak memaknainya. Contoh pemaknaannya : Ini suara apa ya? Oh, suara hewan. Hewan apa ya? Oh anjing. Anjingnya besar apa kecil ya? Galak apa gak ya? dst. Setelah itu otak akan mencocokkan informasi dengan pengalaman masa lampau yang ada dalam memori kita. Misal, kita pernah digigit oleh anjing, maka reaksi kita akan terbirit-birit mendengarnya. Beda kalau kita pernah pelihara anjing dan suka banget, kita justru menghampiri anjing itu.

Apa yang akan terjadi jika sensori kita tidak terintegrasi?

Otak kita tidak menerima pesan, pesan yang diterima tidak konsisten, atau informasi sensorinya konsisten tapi tidak terintegrasi dengan informasi sensori dari sistem sensori yang berhubungan.
Akibatnya anak bisa jadi sangat sensitif (atau justru tidak beraksi sama sekali) dengan sentuhan, gerakan, atau suara; tidak dapat menenangkan diri sendiri; terlambat bicara atau kemampuan bahasa atau motorik; dan masih banyak akibat lainnya.

* Devi Raisa (founder Rabbitholeid, psikolog anak)

Wahhh penting sekali ternyata bermain, yuk bermain bersama anak-anak kita :D

Jumat, 17 April 2015

Budaya Membaca di Negeri Sakura

Jepang terkenal dengan budaya membaca masyarakatnya yang tinggi. Pemandangan antrian dengan orang-orang yang sibuk membaca buku menjadi pemandangan yang biasa di Jepang.

Apakah budaya membaca itu terbentuk tiba-tiba?
Budaya membaca di Jepang terbentuk karena prosesnya yang panjang. Mulai dari orang tua, lingkungan sekitar, sekolah dan terutama peran pemerintah yang mendorong lestarinya budaya membaca di Jepang.

Pemerintah Jepang mewajibkan semua lini masyarakat mengambil peran dalam menciptakan budaya membaca. Terutama di tingkat play grup, TK dan SD.
Kurikulum pemerintah bahkan sudah mencakup tingkat tempat penitipan anak. Setiap tempat penitipan anak dan TK, guru-gurunya diwajibkan membacakan buku cerita sampai 3x dalam sehari. Tentunya dengan cara mendongeng yang seru. Setiap sekolah diwajibkan memiliki perpustakaan dengan bacaan yang beragam. Perpustakaan Jepang adalah tempat yang selalu ramai. Kebiasaan sejak dini ini bahkan membekas sampai hari tua mereka. Kakek dan nenek di Jepang sangat gemar membaca.

Bagaimana dengan negara kita?
Kesadaran membaca di negara qt masih sangat rendah. Peran sekolah dan pemerintah juga tidak besar membentuk kebiasaan membaca. Jika bukan dari para orang tua yang terlibat aktif membentuk kebiasaan ini. Anak-anak akan sulit menjadi pribadi yang gemar membaca.
Indonesia dan Jepang adalah sama-sama negara Asia. Bahkan sumber daya alam Indonesia jauh lebih melimpah ketimbang Jepang. Tapi mengapa Jepang bisa jadi negara maju tapi kita masih merangkak sebagai negara berkembang?
AFTA dimulai tahun 2015. Anak-anak kecil qt yang sekarang masih usia play grup, TK, SD, SMP akan bersaing dengan anak-anak dari Jepang, Irlandia, Inggris dan semua negara di dunia. Sudahkah kita menyiapkan mereka menghadapai masa depannya kelak? Terutama ketika kita para orang tua sudah tidak ada lagi di samping mereka.

Karena Buku Adalah Jendela Dunia

Membaca Cerdaskan Bangsa

Kemajuan teknologi menggeser kebiasaan membaca dengan "bermain gadget"

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang tingkat gemar membacanya masih sangat kurang.

Metode sekolah yang cenderung satu arah. Membuat kegiatan belajar cenderung membebani. Membaca buku menjadi sebuah tekanan sendiri. Sehingga selesai membaca buku atau belajar. Cara terbaik melepaskan stres adalah dengan bemain gadget.

Tapi tahukah Ayah Bunda. Bermain gadget sama tidak baiknya dengan terlalu banyak menonton televisi. Anak-anak jika mengalami kecanduan dengan dua benda ini akan cenderung menjadi pasif.

Ayah Bunda, sama seperti tubuh kita yang membutuhkan olahraga untuk menjaga tulang tetap kuat. Begitupun dengan otak kita. Kebiasaan membaca akan membuat otak kita senantiasa terasah.

Kita yang telah dewasa, mungkin mengalami kesulitan jika dipaksakan hobi membaca di masa sekarang.
Tapi, anak-anak kita yang masih tumbuh tersebut masih bisa kita arahkan untuk gemar membaca.  Agar kelak, belajar tidak menjadi beban untuknya.